Pages - Menu

Rabu, 22 April 2015

3 Pertimbangan sebelum menjadi kutu loncat (Job Hopping)

Pernah mendengar istilah jop-hopper atau dalam padanan bahasa Indonesianya kutu loncat? Istilah ini kadang diberikan kepada orang-orang yang sering berpindah pekerjaan dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Menjadi kutu loncat bisa saja memberikan predikat negatif bagi pekerja, karena dianggap tidak memiliki stabilitas dalam karirnya. Ada banyak alasan mengapa golongan ini sering berpindah pekerjaan, di antaranya gaji, pertumbuhan karir, ataupun bosan dan suntuk dengan pekerjaannya saat ini.


3 Pertimbangan Sebelum Melakukan Job Hopping

Memang masih normal bagi para profesional muda untuk berpindah kerja dua sampai tiga kali dalam kurun waktu dua tahun. Tetapi setelah melakukan wawancara lebih dari 300 manajer HR perusahaan-perusahaan di Kanada dan lebih dari 20 perekrut di Amerika Serikat, perusahaan staffing terkemuka bernama Robert Half menemukan bahwa hal ini merupakan masalah bagi pihak HR dan perekrut.

Pertanyaan yang sering diajukan kepada para responden adalah “menurut Anda, dalam kurun waktu 10 tahun, berapa kali pergantian pekerjaan sehingga seseorang dianggap sebagai kutu loncat?” Respon rata-rata adalah enam kali.

Paul McDonald, Senior Executive Director dari Robert Half, juga mengatakan bahwa bursa lowongan kerja saat ini memang sedang sangat tidak stabil dan pihak perekrut akan mengerti bila para kandidat sering berganti pekerjaan. Tetapi ia juga menambahkan bahwa para perekrut juga harus mencari pekerja yang bisa berkomitmen dalam jangka panjang bagi sebuah perusahaan. Terlalu banyak pergantian kerja atau kutu loncat bisa menjadi bahaya bagi pihak perekrut.

Maka, sebelum Kita memutuskan untuk berpindah-pindah kerja dan dicap sebagai kutu loncat, ada baiknya jika mempertimbangkan kembali keinginan keinginan tersebut. Berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin dapat membantu mempertimbangkan akan berpindah kerja atau tidak:

Mengapa sangat menginginkan kesempatan baru?
Apakah kita menginginkan tantangan yang lebih berat atau apakah perihal uang? Apa kita mengharapkan jam kerja yang lebih fleksibel dan waktu perjalanan yang lebih singkat? Apakah kita ingin hubungan yang lebih baik dengan manajer? Ingat juga untuk selalu memprioritaskan faktor pekerjaan yang paling penting bagi Anda dan carilah pekerjaan baru JIKA hal tersebut memang membantu dalam menjawab keinginan-keinginan kita.

Apakah pindah kerja hanya merupakan satu-satunya solusi?
Pikirkan lagi tentang soal ini. Mungkin perusahaan kita bisa menempatkan di posisi yang lebih cocok atau mungkin juga bos bersedia memberikan tawaran-tawaran yang lebih baik. Jika masih bisa dikompromikan, ada baiknya bila tidak buru-buru dulu angkat kaki.

Lihat apakah ada perusahaan yang bisa menopang pertumbuhan dalam jangka waktu yang panjang?
Pikirkanlah lagi di mana kita bisa tumbuh secara profesional dalam jangka waktu yang panjang. Manakah perusahaan yang lebih solid di antara pilihan yang masih ada? kita juga pasti tidak mau berpindah kerja jika pertumbuhan karir kita akan tersendat atau ternyata perusahaan baru tersebut sedang kesusahan. Jika perusahaan lama masih memiliki prospek lebih bagus, sebaiknya tunda dahulu kepindahan sebelum menemukan prospek baru yang lebih baik.

Tidak ada salahnya pindah kerja untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Namun hati-hati karena bagaimanapun juga stigma kutu loncat bukanlah kesan baik yang ditangkap perekrut bila melihat resume Anda. Pertimbangkan matang-matang sebelum mengambil keputusan. Happy hopping!
Posting Komentar